Atas masukan dari para pembaca blog, saya telah mencari terjemahan tentang cerita bali yang pernah saya publikasikan sebelumnya, silahkan menikmati :)
Cerita Bali : I Siap Selem ver. Indonesia
Ada cerita, seekor ayam betina bernama I Siap Selem. Dia mempunyai anak
ayam yang banyak juga, yang masing-masing memiliki nama-nama unik. Salah
satunya, I Ulagan yang berarti tanpa bulu. Sebagai seorang induk, I
Siap selem ini sangat protektif terhadap anak-anaknya dan juga sangat
cerdik. Musuh abadi keluarga ayam kecil dan sejahtera ini adalah seekor
luwak bernama Men Kuwuk.
Suatu hari, keluarga ayam ini berkelana kesana kemari mencari makan
sampai sore hari. Tanpa dinyana, mereka tersesat. Tepat saat itu, hujan
turun dengan lebat. Rombongan keluarga ayam yang berjumlah tujuh ekor,
termasuk I Ulagan, tersesat dalam sebuah hutan. Tentu mereka mencari
tempat berteduh dan akhirnya sampai dirumah Men Kuwuk.
Seperti kita ketahui, luwak dikenal sebagai binatang pemakan ayam.
Kedatangan I Siap Selem dan keluarganya, membuat Men Kuwuk girang bukan
kepalang. Dalam kepala mereka terbayang hidangan lezat dari daging ayam.
Men Kuwuk mempersilakan keluarga ayam untuk menginap di rumahnya saja,
karena tampaknya hujan belum reda dalam waktu dekat, sementara hari
sudah malam. Naluri I Siap Selem waspada. Ia merasa ada sesuatu pada
kebaikan Men Kuwuk. Karena ia tahu sepak terjang Men Kuwuk terhadap kaum
ayam.
Kedua belah pihak, baik I Siap Selem dan Men Kuwuk, sama-sama mengatur
strategi. Men Kuwuk memikirkan bagaimana caranya menyantap I Siap Selem
dan anak-anaknya. Sementara, I Siap Selem memikirkan bagaimana bertahan
dan memenangkan pertarungan dengan Men Kuwuk - karena ayam tidak kuat
cuaca hujan.
Ketika hujan sudah reda, I Siap Selem segera memerintahkan anak-anaknya
untuk kabur dengan cara terbang melewati pagar pembatas rumah Men Kuwuk.
Yang kabur terlebih dulu anak ayam pertama, disusul kedua, ketiga dan
seterusnya, hingga tersisa I Siap Selem dan I Ulagan. Karena I Ulagan
masih kecil dan belum punya sayap kuat untuk terbang melewati pagar,
maka I Siap Selem dengan berat hati meninggalkannya dengan pesan.
"I Ulagan, ibu percaya kamu bisa memperdayai Men Kuwuk dan keluarganya. Karena kamu yang paling cerdik disini."
Sebetulnya, I Ulagan enggan ditinggal. Tapi, apa boleh buat, ibunya
tentu tidak kuat membawanya. Akhirnya, ia membulatkan hati untuk tetap
tinggal di rumah Men Kuwuk yang kelaparan.
Diam-diam, Men Kuwuk mengamati keluarga I Siap Selem dari jauh. Ia
merasa yakin, tidak ada jalan lain bagi I Siap Selem melarikan diri dari
rumahnya. Pagar rumahnya terlalu tinggi untuk dilewati. Sementara itu, I
Ulagan tengah menggeser batu-batu berwarna hitam yang berbentuk ayam di
dekatnya. Ia sendiri lalu bersembunyi supaya tidak terlihat Men Kuwuk.
Ketika tengah malam tiba, Men Kuwuk bersiap untuk memangsa I Siap Selem
dan anak-anaknya. Dipanggil-panggillah I Siap Selem. Tak ada sahutan.
Men Kuwuk yakin, I Siap Selem dan keluarganya sudah tertidur pulas.
Lalu, dengan mengendap-endap, ia mendekati tempat I Siap Selem berteduh.
Begitu melihat batu-batu berwarna hitam yang berbentuk ayam, secepat
kilat, Men Kuwuk menerkam dan menggigitnya. Sontak, gigi Men Kuwuk
tanggal semuanya. Karena ia menggigit batu bukannya I Siap Selem. I
Ulagan yang melihat Men Kuwuk tanpa gigi itu, tertawa
terpingkal-pingkal. Men Kuwuk meringis kesakitan. I Ulagan bernyanyi,
Ngik... Ngik... Ngak... Gigi Pungak Ngugut Batu (Ngik Ngik ngak, Giginya
nerkam batu).
***
Demikianlah, cerita rakyat yang saya bagikan kali ini. Semoga diambil
hikmahnya, yaitu: kecerdikan bisa melawan kekuatan. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar